medium banner 300x250
Hot
    Responsive Ads
    Home Kejahatan Siber Tekno

    Love Scam, Kejahatan Digital yang Menguras Hati dan Kantong di Era Digital

    "Love scam, penipuan berbasis asmara di dunia digital, kini semakin merajalela dan mengancam banyak korban dengan kerugian finansial yang besar"

    2 min read

    -
    Love Scam, Kejahatan Digital yang Menguras Hati dan Kantong di Era Digital

    HARIANEXPRESS - Dunia maya, yang seharusnya menjadi ruang untuk berinteraksi dan menjalin hubungan sosial, kini menjadi ladang subur bagi berbagai kejahatan, salah satunya adalah love scam. Kejahatan finansial berbasis asmara ini tidak hanya menyakiti perasaan korban, tetapi juga menghancurkan kondisi keuangan mereka. Love scam memanfaatkan kedekatan emosional melalui platform digital untuk menipu dan mengeksploitasi orang yang sedang mencari cinta atau perhatian.

    Seiring dengan meningkatnya penggunaan aplikasi kencan dan interaksi daring, love scam pun semakin berkembang. Modus operandi penipuan ini melibatkan pelaku yang menjalin hubungan emosional dengan korban, membangun kepercayaan, dan akhirnya meminta uang atau keuntungan lainnya. Sebagai salah satu bentuk penipuan yang sangat merugikan, love scam tidak lagi hanya menjadi masalah individu, tetapi telah berkembang menjadi kejahatan digital yang terorganisasi.

    Menurut data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepanjang 2025, laporan terkait love scam mencapai 3.494 kasus dengan kerugian mencapai hampir 50 miliar IDR, angka yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan kerugian sebesar 1,8 miliar IDR pada tahun 2023. Kasus ini mencerminkan betapa besar ancaman love scam terhadap masyarakat, terutama di Indonesia yang kini semakin terhubung dengan dunia maya.

    Love scam menjadi semakin marak seiring pesatnya perkembangan teknologi digital yang memungkinkan komunikasi tanpa batas. Meskipun memberi kemudahan, pesatnya perkembangan teknologi juga membuka celah bagi kejahatan yang semakin canggih. Love scam kini bukan lagi sekadar penipuan sederhana, melainkan sebuah industri yang terstruktur. Para pelaku membagi peran, menggunakan banyak akun dan perangkat untuk menargetkan korban secara lebih tersegmentasi.

    Tak hanya itu, pelaku juga memanfaatkan aplikasi kencan dan media sosial seperti HelloGPT dan WOW untuk memperdaya para korban. Dengan teknik manipulasi yang semakin halus, para pelaku berhasil menipu korban-korbannya yang umumnya adalah perempuan, dengan menawarkan kedekatan emosional yang palsu. Modus ini sering kali digunakan untuk menciptakan hubungan yang tampak wajar dan penuh perhatian, namun pada akhirnya hanya untuk meraup keuntungan secara finansial.

    Para ahli berpendapat bahwa korban love scam sering kali merupakan individu yang tengah merasa kesepian atau memiliki kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Mereka yang cenderung introvert, kurang percaya diri, atau memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan nyata, menjadi target empuk bagi para pelaku. Love scamber memanfaatkan situasi tersebut dengan menawarkan perhatian dan kata-kata manis yang mengarah pada kedekatan emosional yang cepat.

    Kasus yang menimpa salah satu staf media Prabowo Subianto menjadi contoh nyata bagaimana korban bisa kehilangan hingga puluhan juta rupiah. Dalam kasus ini, pelaku berpura-pura menjadi seorang pilot dan membangun hubungan yang tampak wajar sebelum akhirnya meminta uang dari korban. Proses manipulasi yang berlangsung dalam waktu singkat ini sering kali membuat korban tidak sadar bahwa mereka telah diperdaya.

    Selain dari laporan OJK, kepolisian juga mencatatkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus love scam yang dilaporkan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, kasus-kasus ini mencatatkan kerugian finansial yang sangat besar, menunjukkan bahwa kejahatan ini semakin berkembang menjadi masalah sosial yang serius. Salah satu kejadian yang menghebohkan adalah pengungkapan sindikat love scam yang melibatkan 27 WNA asal China dan Vietnam yang beroperasi di Indonesia, menargetkan korban dari berbagai negara.

    Untuk menghindari jatuh dalam perangkap love scam, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia digital. Beberapa langkah pencegahan yang bisa diambil antara lain adalah selalu memverifikasi identitas lawan bicara, menjaga data pribadi, dan menghindari hubungan yang berkembang terlalu cepat tanpa adanya keterbukaan yang jelas.

    Selain itu, literasi digital yang mencakup kesadaran akan potensi manipulasi dan risiko di dunia maya sangat penting. Masyarakat harus diberdayakan dengan pengetahuan untuk mengidentifikasi gejala-gejala penipuan ini dan melaporkannya segera kepada pihak berwajib jika merasa menjadi korban.

    Fenomena love scam mengingatkan kita bahwa meskipun kemajuan teknologi memberi banyak manfaat, kita juga harus berhati-hati terhadap risiko yang ditimbulkannya. Kejahatan digital ini mengajarkan kita pentingnya menjaga integritas dan kehati-hatian dalam berinteraksi di dunia maya, serta memastikan bahwa pengembangan teknologi berjalan seiring dengan upaya untuk menjaga keamanan, etika, dan tanggung jawab bersama. Tanpa tata kelola yang kuat, teknologi bisa menjadi infrastruktur untuk kejahatan siber yang merugikan banyak orang.

    Komentar
    medium banner 300x250
    Additional JS