HARIANEXPRESS, JAKARTA – Chief Executive Officer Meta Mark Zuckerberg menolak seruan untuk menghentikan sementara atau memperlambat pengembangan kecerdasan buatan.
Sikap tersebut dinyatakan di tengah kekhawatiran sejumlah peneliti mengenai potensi ancaman eksistensial teknologi kecerdasan buatan bagi manusia.
Zuckerberg berpendapat insentif pasar dan pertanggungjawaban hukum menjadi perlindungan terbaik untuk memitigasi risiko tersebut.
Menurutnya, para pengembang memiliki dorongan alami untuk menciptakan sistem yang selaras dengan kehendak pengguna demi menghindari kerugian dan jeratan hukum.
Meta sendiri telah mengambil langkah mandiri dengan sempat menunda peluncuran agen AI Muse guna memperkuat sistem keamanannya.
Penegasan mengenai tanggung jawab laboratorium riset disampaikan langsung oleh pimpinan Meta tersebut melalui media sosial X sebagaimana dikutip Channel News Asia.
“Setiap laboratorium memiliki tanggung jawab dan insentif untuk bergerak pada kecepatan yang dibutuhkan demi melatih modelnya secara aman, serta kemampuan mengambil tindakannya sendiri untuk memastikan hal itu terjadi,” tulis Zuckerberg.
Ia menegaskan langkah kehati-hatian perusahaannya murni merupakan keputusan internal.
“Kami tidak menyerukan semua orang lain untuk melakukan ini sebelum kami melakukannya,” ujarnya. “Kami hanya melakukannya sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari karena itu jelas hal yang tepat bagi masyarakat dan kami,” lanjut dia.
Pernyataan Zuckerberg merespons usulan Chief Executive Officer Anthropic Dario Amodei yang mendesak perlambatan laju AI lewat rencana tiga langkah keselamatan.
Usulan Amodei sebelumnya memperoleh dukungan terbuka dari pimpinan OpenAI Sam Altman serta bos xAI Elon Musk.
Di ranah pemerintahan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (14/9/2026) mengecilkan kekhawatiran bahaya AI demi menjaga persaingan global melawan China.
Pandangan bahwa regulasi ketat berisiko melemahkan daya saing korporasi turut disuarakan oleh Chief Executive Officer NVIDIA Jensen Huang.
Rencana koordinasi antarperusahaan justru memicu kecurigaan dari Ketua Federal Trade Commission Andrew Ferguson terkait permohonan pengecualian aturan antimonopoli.
Ferguson menilai publik harus waspada terhadap pengembang yang melobi izin khusus sembari mendorong regulasi baru.
Mengenai fokus teknologi, Zuckerberg menyatakan Meta lebih memprioritaskan sumber daya komputasi untuk produk konsumen daripada mengejar recursive self-improvement.
“Mendedikasikan mayoritas signifikan komputasi untuk melayani masyarakat daripada berlomba menuju recursive self-improvement adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan kita mengembangkan teknologi ini dengan aman,” tulis Zuckerberg.
Langkah evaluasi mandiri Meta Superintelligence Labs kini diperkuat penilai independen setelah perusahaan menyelesaikan gugatan hukum di Amerika Serikat senilai 18 miliar dolar AS atau Rp318,55 triliun tanpa pengakuan bersalah.








